Mega bicara, feodal masih jalan?
dear all, semangat pagi.
Tatkala menyaksikan "kick Andy" minggu 21 des, soal Megawati bicara, satu hal yang langsung terpikir di benak: berubah. Selain tutur katanya lebih komunikatif, mantan presiden RI tersebut seolah sudah mulai menguasai diri terhadap saran atau kritik. Beberapa kali pembawa acara Andy Noya menanyakan hal-hal peka, yang mungkin saat Mega menjadi presiden tidak ada yang berani menanyakan, tetapi dalam dialog kali ini Mega memang siap dengan jawaban. Tak terduga, tetapi tetap berkesan bersahabat. Mulai dari pendidikan Mega yang hanya tamat SMA, dan selalu dijadikan senjata lawan politiknya untuk menjegal pencapresan putri Bung Karno tersebut. Tetapi oleh Mega diakui, kriteria pendidikan yang harus S1, menjadi alat untuk menjegalnya dalam pemilu presiden 2009. Demikian pula soal kekecewaan Gus Dur saat menjadi presiden yang dijatuhkan di tengah jalan terhadap Megawati. Gus Dur menilai Mega dan Amien Rais yang bertanggung jawab terhadap kejatuhannya. Mega pun menanggapinya dengan mengaku tidak ada persoalan, karena posisinya terjepit sebagai wapres yang harus menerima amanah DPR maupun persahabatan dengan tokoh NU tersebut.
Lalu, apa sesungguhnya yang berubah dari diri Mega setelah tidak lagi menjabat presiden? Mega menjadi lebih bersahabat dengan media, dengan publik, dalam menyampaikan pesan-pesan politiknya. Bandingkan dengan saat Mega menjadi simbol politisi teraniaya di masa Orde Baru, hampir sekeliling orang Mega mengkultuskannya. Akibatnya, tindakan protokoler dan terkesan over acting pun muncul dari para pengawal yang mengaku paling Mega. Hal ini terus berlangsung hingga menjadi wakil presiden. Seolah Mega makin jauh dengan siapa pun, terutama rakyat yang selama ini diperjuangkan dalam misi "wong cilik"-nya.
Tentu sebagai bagian protokoler, tidak sepenuhnya sikap Mega bisa dipersalahkan. Tetapi rakyat jelas tidak akan pernah mau tahu, orang yang dulu dijadikan simbol kebebasan dan perlawanan yang bisa menjadi harapan, seakan makin jauh. Nah, hukuman rakyat itu pun akhirnya dijatuhkan melalui vonis pemilu presiden 2004 lalu, Mega kalah dari Susilo Bambang Yudhoyono.
Bagi kita yang berada di luar lingkaran Mega termasuk di luar PDIP, Mega memang seakan menjalankan kepemimpinannya secara sentralistik. Semua ini tak lepas dari pengkultusan diri Mega oleh para pendukung setianya. Akibat terlena dengan pengkultusan diri itulah, akhirnya muncul sikap otoriter. Tidak ada ruang dialog. Kebijakan hanya berlangsung satu arah. Mega tak boleh dikritik. Mega akan siap memecat mereka yang berani melawan kebijakan. Sebut saja sejumlah sempalan parpol yang dulunya adalah loyalis Mega. Partai Tanah Air Dimiyati Hartono, PNBK Eros Djarot, PDP Roy BB Janis, dll.
Tidak semata lingkaran Mega yang seakan menjauh, tetapi juga kalangan pers. Pernah suatu ketika di tayangan televisi swasta, Mega tampak marah saat ditanya sesuatu. Nah, akumulasi sikap ini terus menggunung yang membuat kalangan pers pun seakan apatis dengan komentar Mega. Tidak ada yang bisa dijadikan bahan berita.
Jika kini, Mega mulai komunikatif dengan media, atau pun publik, jelas orientasinya adalah pemilu presiden 2009. Mega mencoba merangkul kembali sesuatu yang hilang, kharisma dan komunikatif dengan rakyatnya. Untuk sebuah modal bertarung, tentu komunikasi yang efektif, sangatlah baik. Kini yang masih perlu dicermati adalah menanggalkan gaya feodalistik yang bagaimana pun masih melekat di putri presiden Soekarno tersebut. Selain sebagai putri biologis Soekarno, Mega memang cukup lama hidup dengan suasana feodalistik. Diakui atau tidak, siapa yang tak kenal dengan Mega sebagai putri Presiden kala itu. Nah. kini di era kepemimpinan demokrasi dengan menjadikan suara rakyat sebagai suara Tuhan, tentu saja sikap feodalistik Mega itu tak bisa dijual lagi. Demokrasi mesti terus dikembangkan di lingkar dekat Mega. Tak terkecuali memberikan ruang ekspresi kebebasan berpendapat, dalam tubuh PDIP sebagai induk partai yang menaunginya. Jika demikian, niscaya Mega bisa menjadi batu sandungan terbesar bagi keinginan SBY untuk kembali menjadi presiden dalam pemilu 2009.
Mega bicara, mega berubah.
Minggu, 21 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
wah pak agus bahasanya keren....sukses buat bloggingnya pak.... moga banyak pengunjung....
BalasHapus