Calon Legislatif Bersiap Keruk Uang Rakyat
deal all,
Empat bulan jelang pemilu legislatif, para peserta pemilu gencar kampanye. Tak terkecuali para calon legislatif. Mereka pun mulai jor-joran memasang atribut kampanye untuk memperkenalkan diri. Atribut menjadi salah satu cara saja untuk berkampanye. Masih banyak cara lain. Diantaranya mesimakrama atau bersilahturahmi dengan masyarakat atau pun temu muka. Nah, pertanyaannya sekarang adalah, berapa biaya yang mesti dihabiskan salah satu kandidat pemilu?
Jika melihat contoh atribut yang dibuat, sebut saja satu baliho ukuran besar nilainya 400 ribu, berarti jika membuat sepuluh atribut, sudah empat juta. Demikian seterusnya. Hal serupa juga kita lihat dalam tiap kali simakrama para caleg dengan konstituennya. Biasanya usai menyampaikan visi dan misi, para caleg akan menyerahkan amplop berisi uang. Kedoknya sumbangan dan ini selalu diminta di-shot oleh tv sehingga publik tahu kalau sang caleg memang 'bares" atau suka menyumbang. Dana sumbangan pun tak terbilang, pastilah nilainya jutaan rupiah.
Rentang waktu yang panjang, jelas sangat menguras modal para caleg untuk bisa duduk sebagai DPRD maupun DPR. Logikanya, caleg ini pun ibarat bermain judi, kalah pasti akan bangkrut. Kecuali yang memang sudah berpredikat sebagai politisi kaya. Lain halnya bila ada yang harus gali lubang tutup lubang untuk membiayai pencalegan. Mulai jual tanah, gadaikan sertifikat rumah, jual perhiasan, dll. Jika demikian, bisa dipastikan, sang caleg akan stres bahkan gila bila tak terpilih. Padahal, dana yang dikeluarkan tak terbilang kecil.
Kini menjadi tugas masyarakat untuk mengawasi, sejauh mana kesungguhan para caleg tersebut untuk berjuang demi kepentingan masyarakat. pasalnya, dengan modal yang sudah terkuras begitu banyak, niscaya mereka pun akan berpikir untuk balik modal. Caranya, dengan memanfaatkan tiap peluang dalam masa jabatan lima tahun, untuk mengeruk uang rakyat. Mulai dari memainkan anggaran, sesuai fungsinya bersama eksekutif, sampai memanfaatkan celah dana reses atau kunjungan.
Banyak contoh bisa dijadikan acuan. Seorang caleg incumbent misalnya atau caleg yang telah duduk di DPR dan kini kembali mencalonkan diri. Tiap kunjungan ke daerah atau bertemu konstituen, selalu menebar pesona dan uang kepada masyarakat. Secara moral memang itu sangat baik. Artinya sang caleg incumbent ingat dengan kawitan atau leluhurnya. Namun rakyat pun tak boleh terlena, semua uang yang diterimanya itu adalah uang mereka. Sang caleg incumbent hanyalah distributor uang rakyat yang diambilkan dari APBN atau APBD. Permasalahannya, akan berbeda jika ada caleg incumbent yang malah tidak mengembalikan yang reses atau kunjungan itu kepada rakyatnya. Itu namanya membodohi rakyat. Sang caleg incumbent sengaja ingin memperkaya diri alias korupsi uang rakyat. Maka sudah menjadi kewajiban, untuk melawan caleg incumbent yang "pelit" seperti itu. Padahal, jika laporan kinerja di panitia anggaran, laporannya semua dana reses telah didistribusikan ke semua kontituen. Caranya, membuat kwitansi palsu atau laporan kinerja seadanya.
Lantas akankah pola serupa akan diterapkan caleg pendatang baru yang terpilih? Jawabannya bisa ya bisa tidak. Betapa pun sang caleg terpilih, saat pertama duduk pastilah merasa senang, bangga dan tentu prestius. Politisi kaya atau pun politisi orang kaya baru, niscaya akan berhitung secara ekonomi tatkala sudah duduk selama lima tahun ke depan. Mulai dari menghitung berapa modal yang telah terkuras, hingga tahun keberapa modal akan kembali. Pikiran berikutnya adalah mencari keuntungan lalu menanam modal untuk pemilihan lima tahun berikutnya.
Kita memang tak boleh menafikan adanya caleg terpilih yang murni berjuang untuk rakyat. Betapa pun, seorang politisi, memperjuangkan konstituen adalah tanggung jawab moral. Namun dengan pola pragmatis yang kini sudah mewabah di benak masyarakat, sang politisi pun tak bisa diam atau mengabaikannya. Mereka akan berjuang untuk bisa tetap mempertahankan kepercayaan rakyat dengan mengembalikan uang rakyat kepada rakyat sendiri. Itu artinya, para politisi terpilih bersiap menerima tudingan sebagai tukang keruk uang rakyat, bukan sekadar jabatan yang terhormat. Itu realitas yang tak bisa dihindari. Jadi jangan marah. Bersiap menjadi politisi, maka bersiaplah menjadi kaya, atau jatuh bangkrut. Atau bahkan, bersiap dihujat dan dijauhi para konstituennya. Kata orang, saat menjadi pejabat negara, tak terkecuali DPR maupun DPRD, sudah disiapkan tiga rumah yakni rumah pribadi, rumah dinas dan rumah tahanan. Tergantung sang politisi, apakah ingin menjadi murni, ataukah politisi OKB (orang kaya baru)?
Minggu, 28 Desember 2008
Rabu, 24 Desember 2008
Gubernur Pastika Ubah Bali
Gubernur Pastika Ubah Bali
dear all,
Bali memiliki gubernur baru. Komjen polisi Made Mangku Pastika, pelaksana harian Badan Narkotika Nasional. Harapan baru pun muncul dari sosok mantan keluarga transmigran yang puluhan tahun hidup di luar Bali. Lebih berani menegakkan aturan tentunya, sesuai latar belakangnya sebagai jenderal polisi. Tak salah, harapan besar ada di pundaknya terutama mereka yang tak ingin melihat Bali sekadar jadi ajang mengeruk keuntungan bagi sebagian orang, termasuk investor.
Rupanya gebrakan yang mampu mengubah Bali, memang benar. Melalui berbagai ide yang sempat dilontarkan di media, Gubernur Pastika awalnya menyetujui pembangunan sejumlah villa di Badung yang menyentuh kawasan suci. Dia pun berniat mengajukan perubahan bhisama Parisadha Hindu Dharma Indonesia, untuk mengubah jarak kesucian pura. Setelah sempat dikritik, akhirnya idenya ini redup. Kini, muncul lagi ide mengubah perda ketinggian bangunan dari sebelumnya 15 meter. Alasannya, perda Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) melalui Perda 3/2005 dianggap tidak relevan, karena menghabiskan lahan. Itu artinya, bangunan melebihi 15 meter seperti hotel ataupun apartemen, diberikan izin. Nah, benar kan Gubernur Pastika memang datang ingin mengubah Bali.
Persoalannya, mengubah Bali menuju ke arah lebih baik atau merusak tatanan Bali yang sudah ada. Lalu seperti apa realisasi konsep ajeg Bali yang melekat dalam pikiran Gubernur Pastika? Sulit dibayangkan, seorang Mangku Pastika, yang tingkat kecerdasannya memang telah diakui, baik dari sisi visi maupun performance-nya sebagai seorang pemimpin, ternyata sulit dipahami masyarakat Bali kebanyakan. Apalagi, jika dikorelasikan dengan aturan dan kesucian Bali selama ini yang dijaga ketat oleh Perda maupun bhisama.
Awalnya, ide menyetujui pembangunan sejumlah bangunan hotel atau villa yang menyentuh kesucian pura Uluwatu, bisa sedikit dimengerti setelah Gubernur Pastika mengaku salah. Tetapi ketika ide mengubah perda bangunan kembali menyeruak, sulit dibayangkan itu sebuah kekhilafan. Tetapi sebagai bagian rencana tersistematis oleh seorang Pastika, untuk mewujudkan visi dan misinya menuju Bali Mandara dengan cara melabrak aturan dan bhisama. Bali benar-benar mau diajak untuk berubah total. Tidak saja dari sisi pola pikir manusianya, tetapi adat istiadat. Bisa dibayangkan, dengan bebasnya investor melakukan pembangunan di Bali, perlahan pola pikir masyarakat Bali jelas akan berubah.
Orientasi masyarakat pun akan menjadikan ekonomi sebagai pertimbangan utama dalam mengambil sikap. Tidak ada lagi, budaya paternalistik dengan bersendikan kekuatan adat istiadat dan budaya, sebagai perisai menangkal pengaruh liberalisme melalui kekuatan ekonomi.
Sungguh sebuah keniscayaan, kekuatan modal akan mengubah Bali, melalui sang pemimpinnya. Masyarakat Bali pun patut curiga, ide-ide mengubah Perda dan bhisama ini adalah bagian dari rencana mengubah Bali secara struktural maupun kultural. Tidak akan ada lagi kebanggaan masyarakat Bali, apalagi mereka yang selalu mendengungkan ajeg Bali. Jika itu yang diinginkan, mari kita sama-sama ubah Bali. Berada di belakang Gubernur Pastika, ubah Bali dengan mengundang investor sebanyak-banyaknya, tanpa peduli bhisama dan aturan. Jika ada aturan atau bhisama yang menjadi batu sandungan, ubah saja. Toh Gubernur Pastika didukung mayoritas kekuatan parpol di DPRD Bali.
Tetapi jika kita tidak sepakat dengan ide-ide Gubernur Pastika, mari kita ingatkan, ide-ide mengubah Bali secara radikal tidak pantas dibawa ke bumi seribu pura ini. Baiknya, Gubernur Pastika belajar lebih banyak soal dari sejumlah tokoh dan agamawan Bali, berdialog, kemana baiknya Bali dibawa. Tidak ada lagi budaya komando dalam kepemimpinan Bali seperti di kepolisian yang menjadi almamaternya. Ini lembaga politis Pak Gubernur, dialog dan musyawarah dengan mengedepankan budaya Bali tetapi menjadi pertimbangan utama. Bukan kepentingan pemodal apalagi mereka yang sekadar mengeruk keuntungan di Bali. Tentu Pak Gubernur Pastika tak ingin disebut rencana tersistematisnya ini sebagai upaya balas budi atas kemungkinan adanya calo-calo pilkada Bali tempo lalu, yang telah mengeluarkan dana tidak sedikit, hanya untuk duduk sebagai Gubernur Bali. Semoga!
dear all,
Bali memiliki gubernur baru. Komjen polisi Made Mangku Pastika, pelaksana harian Badan Narkotika Nasional. Harapan baru pun muncul dari sosok mantan keluarga transmigran yang puluhan tahun hidup di luar Bali. Lebih berani menegakkan aturan tentunya, sesuai latar belakangnya sebagai jenderal polisi. Tak salah, harapan besar ada di pundaknya terutama mereka yang tak ingin melihat Bali sekadar jadi ajang mengeruk keuntungan bagi sebagian orang, termasuk investor.
Rupanya gebrakan yang mampu mengubah Bali, memang benar. Melalui berbagai ide yang sempat dilontarkan di media, Gubernur Pastika awalnya menyetujui pembangunan sejumlah villa di Badung yang menyentuh kawasan suci. Dia pun berniat mengajukan perubahan bhisama Parisadha Hindu Dharma Indonesia, untuk mengubah jarak kesucian pura. Setelah sempat dikritik, akhirnya idenya ini redup. Kini, muncul lagi ide mengubah perda ketinggian bangunan dari sebelumnya 15 meter. Alasannya, perda Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) melalui Perda 3/2005 dianggap tidak relevan, karena menghabiskan lahan. Itu artinya, bangunan melebihi 15 meter seperti hotel ataupun apartemen, diberikan izin. Nah, benar kan Gubernur Pastika memang datang ingin mengubah Bali.
Persoalannya, mengubah Bali menuju ke arah lebih baik atau merusak tatanan Bali yang sudah ada. Lalu seperti apa realisasi konsep ajeg Bali yang melekat dalam pikiran Gubernur Pastika? Sulit dibayangkan, seorang Mangku Pastika, yang tingkat kecerdasannya memang telah diakui, baik dari sisi visi maupun performance-nya sebagai seorang pemimpin, ternyata sulit dipahami masyarakat Bali kebanyakan. Apalagi, jika dikorelasikan dengan aturan dan kesucian Bali selama ini yang dijaga ketat oleh Perda maupun bhisama.
Awalnya, ide menyetujui pembangunan sejumlah bangunan hotel atau villa yang menyentuh kesucian pura Uluwatu, bisa sedikit dimengerti setelah Gubernur Pastika mengaku salah. Tetapi ketika ide mengubah perda bangunan kembali menyeruak, sulit dibayangkan itu sebuah kekhilafan. Tetapi sebagai bagian rencana tersistematis oleh seorang Pastika, untuk mewujudkan visi dan misinya menuju Bali Mandara dengan cara melabrak aturan dan bhisama. Bali benar-benar mau diajak untuk berubah total. Tidak saja dari sisi pola pikir manusianya, tetapi adat istiadat. Bisa dibayangkan, dengan bebasnya investor melakukan pembangunan di Bali, perlahan pola pikir masyarakat Bali jelas akan berubah.
Orientasi masyarakat pun akan menjadikan ekonomi sebagai pertimbangan utama dalam mengambil sikap. Tidak ada lagi, budaya paternalistik dengan bersendikan kekuatan adat istiadat dan budaya, sebagai perisai menangkal pengaruh liberalisme melalui kekuatan ekonomi.
Sungguh sebuah keniscayaan, kekuatan modal akan mengubah Bali, melalui sang pemimpinnya. Masyarakat Bali pun patut curiga, ide-ide mengubah Perda dan bhisama ini adalah bagian dari rencana mengubah Bali secara struktural maupun kultural. Tidak akan ada lagi kebanggaan masyarakat Bali, apalagi mereka yang selalu mendengungkan ajeg Bali. Jika itu yang diinginkan, mari kita sama-sama ubah Bali. Berada di belakang Gubernur Pastika, ubah Bali dengan mengundang investor sebanyak-banyaknya, tanpa peduli bhisama dan aturan. Jika ada aturan atau bhisama yang menjadi batu sandungan, ubah saja. Toh Gubernur Pastika didukung mayoritas kekuatan parpol di DPRD Bali.
Tetapi jika kita tidak sepakat dengan ide-ide Gubernur Pastika, mari kita ingatkan, ide-ide mengubah Bali secara radikal tidak pantas dibawa ke bumi seribu pura ini. Baiknya, Gubernur Pastika belajar lebih banyak soal dari sejumlah tokoh dan agamawan Bali, berdialog, kemana baiknya Bali dibawa. Tidak ada lagi budaya komando dalam kepemimpinan Bali seperti di kepolisian yang menjadi almamaternya. Ini lembaga politis Pak Gubernur, dialog dan musyawarah dengan mengedepankan budaya Bali tetapi menjadi pertimbangan utama. Bukan kepentingan pemodal apalagi mereka yang sekadar mengeruk keuntungan di Bali. Tentu Pak Gubernur Pastika tak ingin disebut rencana tersistematisnya ini sebagai upaya balas budi atas kemungkinan adanya calo-calo pilkada Bali tempo lalu, yang telah mengeluarkan dana tidak sedikit, hanya untuk duduk sebagai Gubernur Bali. Semoga!
Minggu, 21 Desember 2008
Mega Bicara, Feodal Jalan Terus?
Mega bicara, feodal masih jalan?
dear all, semangat pagi.
Tatkala menyaksikan "kick Andy" minggu 21 des, soal Megawati bicara, satu hal yang langsung terpikir di benak: berubah. Selain tutur katanya lebih komunikatif, mantan presiden RI tersebut seolah sudah mulai menguasai diri terhadap saran atau kritik. Beberapa kali pembawa acara Andy Noya menanyakan hal-hal peka, yang mungkin saat Mega menjadi presiden tidak ada yang berani menanyakan, tetapi dalam dialog kali ini Mega memang siap dengan jawaban. Tak terduga, tetapi tetap berkesan bersahabat. Mulai dari pendidikan Mega yang hanya tamat SMA, dan selalu dijadikan senjata lawan politiknya untuk menjegal pencapresan putri Bung Karno tersebut. Tetapi oleh Mega diakui, kriteria pendidikan yang harus S1, menjadi alat untuk menjegalnya dalam pemilu presiden 2009. Demikian pula soal kekecewaan Gus Dur saat menjadi presiden yang dijatuhkan di tengah jalan terhadap Megawati. Gus Dur menilai Mega dan Amien Rais yang bertanggung jawab terhadap kejatuhannya. Mega pun menanggapinya dengan mengaku tidak ada persoalan, karena posisinya terjepit sebagai wapres yang harus menerima amanah DPR maupun persahabatan dengan tokoh NU tersebut.
Lalu, apa sesungguhnya yang berubah dari diri Mega setelah tidak lagi menjabat presiden? Mega menjadi lebih bersahabat dengan media, dengan publik, dalam menyampaikan pesan-pesan politiknya. Bandingkan dengan saat Mega menjadi simbol politisi teraniaya di masa Orde Baru, hampir sekeliling orang Mega mengkultuskannya. Akibatnya, tindakan protokoler dan terkesan over acting pun muncul dari para pengawal yang mengaku paling Mega. Hal ini terus berlangsung hingga menjadi wakil presiden. Seolah Mega makin jauh dengan siapa pun, terutama rakyat yang selama ini diperjuangkan dalam misi "wong cilik"-nya.
Tentu sebagai bagian protokoler, tidak sepenuhnya sikap Mega bisa dipersalahkan. Tetapi rakyat jelas tidak akan pernah mau tahu, orang yang dulu dijadikan simbol kebebasan dan perlawanan yang bisa menjadi harapan, seakan makin jauh. Nah, hukuman rakyat itu pun akhirnya dijatuhkan melalui vonis pemilu presiden 2004 lalu, Mega kalah dari Susilo Bambang Yudhoyono.
Bagi kita yang berada di luar lingkaran Mega termasuk di luar PDIP, Mega memang seakan menjalankan kepemimpinannya secara sentralistik. Semua ini tak lepas dari pengkultusan diri Mega oleh para pendukung setianya. Akibat terlena dengan pengkultusan diri itulah, akhirnya muncul sikap otoriter. Tidak ada ruang dialog. Kebijakan hanya berlangsung satu arah. Mega tak boleh dikritik. Mega akan siap memecat mereka yang berani melawan kebijakan. Sebut saja sejumlah sempalan parpol yang dulunya adalah loyalis Mega. Partai Tanah Air Dimiyati Hartono, PNBK Eros Djarot, PDP Roy BB Janis, dll.
Tidak semata lingkaran Mega yang seakan menjauh, tetapi juga kalangan pers. Pernah suatu ketika di tayangan televisi swasta, Mega tampak marah saat ditanya sesuatu. Nah, akumulasi sikap ini terus menggunung yang membuat kalangan pers pun seakan apatis dengan komentar Mega. Tidak ada yang bisa dijadikan bahan berita.
Jika kini, Mega mulai komunikatif dengan media, atau pun publik, jelas orientasinya adalah pemilu presiden 2009. Mega mencoba merangkul kembali sesuatu yang hilang, kharisma dan komunikatif dengan rakyatnya. Untuk sebuah modal bertarung, tentu komunikasi yang efektif, sangatlah baik. Kini yang masih perlu dicermati adalah menanggalkan gaya feodalistik yang bagaimana pun masih melekat di putri presiden Soekarno tersebut. Selain sebagai putri biologis Soekarno, Mega memang cukup lama hidup dengan suasana feodalistik. Diakui atau tidak, siapa yang tak kenal dengan Mega sebagai putri Presiden kala itu. Nah. kini di era kepemimpinan demokrasi dengan menjadikan suara rakyat sebagai suara Tuhan, tentu saja sikap feodalistik Mega itu tak bisa dijual lagi. Demokrasi mesti terus dikembangkan di lingkar dekat Mega. Tak terkecuali memberikan ruang ekspresi kebebasan berpendapat, dalam tubuh PDIP sebagai induk partai yang menaunginya. Jika demikian, niscaya Mega bisa menjadi batu sandungan terbesar bagi keinginan SBY untuk kembali menjadi presiden dalam pemilu 2009.
Mega bicara, mega berubah.
dear all, semangat pagi.
Tatkala menyaksikan "kick Andy" minggu 21 des, soal Megawati bicara, satu hal yang langsung terpikir di benak: berubah. Selain tutur katanya lebih komunikatif, mantan presiden RI tersebut seolah sudah mulai menguasai diri terhadap saran atau kritik. Beberapa kali pembawa acara Andy Noya menanyakan hal-hal peka, yang mungkin saat Mega menjadi presiden tidak ada yang berani menanyakan, tetapi dalam dialog kali ini Mega memang siap dengan jawaban. Tak terduga, tetapi tetap berkesan bersahabat. Mulai dari pendidikan Mega yang hanya tamat SMA, dan selalu dijadikan senjata lawan politiknya untuk menjegal pencapresan putri Bung Karno tersebut. Tetapi oleh Mega diakui, kriteria pendidikan yang harus S1, menjadi alat untuk menjegalnya dalam pemilu presiden 2009. Demikian pula soal kekecewaan Gus Dur saat menjadi presiden yang dijatuhkan di tengah jalan terhadap Megawati. Gus Dur menilai Mega dan Amien Rais yang bertanggung jawab terhadap kejatuhannya. Mega pun menanggapinya dengan mengaku tidak ada persoalan, karena posisinya terjepit sebagai wapres yang harus menerima amanah DPR maupun persahabatan dengan tokoh NU tersebut.
Lalu, apa sesungguhnya yang berubah dari diri Mega setelah tidak lagi menjabat presiden? Mega menjadi lebih bersahabat dengan media, dengan publik, dalam menyampaikan pesan-pesan politiknya. Bandingkan dengan saat Mega menjadi simbol politisi teraniaya di masa Orde Baru, hampir sekeliling orang Mega mengkultuskannya. Akibatnya, tindakan protokoler dan terkesan over acting pun muncul dari para pengawal yang mengaku paling Mega. Hal ini terus berlangsung hingga menjadi wakil presiden. Seolah Mega makin jauh dengan siapa pun, terutama rakyat yang selama ini diperjuangkan dalam misi "wong cilik"-nya.
Tentu sebagai bagian protokoler, tidak sepenuhnya sikap Mega bisa dipersalahkan. Tetapi rakyat jelas tidak akan pernah mau tahu, orang yang dulu dijadikan simbol kebebasan dan perlawanan yang bisa menjadi harapan, seakan makin jauh. Nah, hukuman rakyat itu pun akhirnya dijatuhkan melalui vonis pemilu presiden 2004 lalu, Mega kalah dari Susilo Bambang Yudhoyono.
Bagi kita yang berada di luar lingkaran Mega termasuk di luar PDIP, Mega memang seakan menjalankan kepemimpinannya secara sentralistik. Semua ini tak lepas dari pengkultusan diri Mega oleh para pendukung setianya. Akibat terlena dengan pengkultusan diri itulah, akhirnya muncul sikap otoriter. Tidak ada ruang dialog. Kebijakan hanya berlangsung satu arah. Mega tak boleh dikritik. Mega akan siap memecat mereka yang berani melawan kebijakan. Sebut saja sejumlah sempalan parpol yang dulunya adalah loyalis Mega. Partai Tanah Air Dimiyati Hartono, PNBK Eros Djarot, PDP Roy BB Janis, dll.
Tidak semata lingkaran Mega yang seakan menjauh, tetapi juga kalangan pers. Pernah suatu ketika di tayangan televisi swasta, Mega tampak marah saat ditanya sesuatu. Nah, akumulasi sikap ini terus menggunung yang membuat kalangan pers pun seakan apatis dengan komentar Mega. Tidak ada yang bisa dijadikan bahan berita.
Jika kini, Mega mulai komunikatif dengan media, atau pun publik, jelas orientasinya adalah pemilu presiden 2009. Mega mencoba merangkul kembali sesuatu yang hilang, kharisma dan komunikatif dengan rakyatnya. Untuk sebuah modal bertarung, tentu komunikasi yang efektif, sangatlah baik. Kini yang masih perlu dicermati adalah menanggalkan gaya feodalistik yang bagaimana pun masih melekat di putri presiden Soekarno tersebut. Selain sebagai putri biologis Soekarno, Mega memang cukup lama hidup dengan suasana feodalistik. Diakui atau tidak, siapa yang tak kenal dengan Mega sebagai putri Presiden kala itu. Nah. kini di era kepemimpinan demokrasi dengan menjadikan suara rakyat sebagai suara Tuhan, tentu saja sikap feodalistik Mega itu tak bisa dijual lagi. Demokrasi mesti terus dikembangkan di lingkar dekat Mega. Tak terkecuali memberikan ruang ekspresi kebebasan berpendapat, dalam tubuh PDIP sebagai induk partai yang menaunginya. Jika demikian, niscaya Mega bisa menjadi batu sandungan terbesar bagi keinginan SBY untuk kembali menjadi presiden dalam pemilu 2009.
Mega bicara, mega berubah.
Jumat, 19 Desember 2008
Hari ini 36 tahun tahun silam
Denpasar, 20 Desember 2008
dear all,
Sungguh suatu kebahagiaan hari ini 36 tahun silam, saya pertama kali melihat dunia. Tatkala Yang Kuasa masih memberikan kekuatan hingga kini untuk melihat ragamnya dunia, tentu puji syukur yang mesti terucap. Tiada kekuatan sekuat Yang Kuasa, tiada kebesaran sebesar Yang Kuasa. Karenanya, marilah kita sebagai umat manusia, tak hentinya bersujud syukur, begitu matahari pagi menyapa dari sang peraduan. Betapa sesungguhnya, dunia ini indah, besar, dan kaya dengan beraneka nafas kehidupan.
Di tengah krisis global yang kini bangsa di dunia alami, memperkuat keimanan menjadi kunci, betapa kita mesti kuat, tegar, karena hidup ini harus terus berjalan. Saatnya berkreasi penuh perhitungan dengan tetap mengedepankan moralitas dan etika. Mari bersatu membangun kualitas diri, berkesinambungan, bersama menuju hari yang lebih baik.
Teriring doa dan semangat pagi, untuk keluarga, sahabat, masyarakat, negara dan sesama anak dunia ini. Peace!
dear all,
Sungguh suatu kebahagiaan hari ini 36 tahun silam, saya pertama kali melihat dunia. Tatkala Yang Kuasa masih memberikan kekuatan hingga kini untuk melihat ragamnya dunia, tentu puji syukur yang mesti terucap. Tiada kekuatan sekuat Yang Kuasa, tiada kebesaran sebesar Yang Kuasa. Karenanya, marilah kita sebagai umat manusia, tak hentinya bersujud syukur, begitu matahari pagi menyapa dari sang peraduan. Betapa sesungguhnya, dunia ini indah, besar, dan kaya dengan beraneka nafas kehidupan.
Di tengah krisis global yang kini bangsa di dunia alami, memperkuat keimanan menjadi kunci, betapa kita mesti kuat, tegar, karena hidup ini harus terus berjalan. Saatnya berkreasi penuh perhitungan dengan tetap mengedepankan moralitas dan etika. Mari bersatu membangun kualitas diri, berkesinambungan, bersama menuju hari yang lebih baik.
Teriring doa dan semangat pagi, untuk keluarga, sahabat, masyarakat, negara dan sesama anak dunia ini. Peace!
Langganan:
Postingan (Atom)